Sabtu , November 27 2021

Ada Dua Kegembiran Mereka yang Berpuasa

Oleh:
Yunahar Ilyas



Detak kampar.com Rasulullah
SAW bersabda: “Orang yang berpuasa itu memiliki dua kegembiraan, yaitu saat
berbuka puasa dia bergembira dengan makanannya, dan jika bersua Rabbnya dia
bergembira dengan puasanya.” (HR Bukhari Muslim)

Kegembiraan orang yang berpuasa saat berbuka merupakan kegembiraan yang alami
karena dia mendapatkan kebebasannya kembali dari apa yang tadinya dilarang.
Kegembiraan berbuka puasa juga merupakan kegembiraan yang religius karena dia
berhasil menyelesaikan ibadah puasanya.

Berbuka puasa adalah momentum yang sangat efektif untuk meningkatkan
kebersamaan antara sesama anggota keluarga dalam sebuah rumah tangga.

Kalau pada hari-hari biasa sangat sulit untuk mencari waktu makan bersama
antara suami istri karena kesibukan masing-masing, apalagi makan bersama
lengkap dengan anak-anak, dalam bulan Ramadhan ini kesempatan itu datang lebih
banyak—kalau bukan setiap hari—tatkala buka puasa.

Kesempatan kebersamaan itu lebih banyak lagi, bahkan mungkin bisa setiap hari
tatkala makan sahur. Kebersamaan antara seluruh anggota keluarga pada waktu
berbuka dan sahur akan meningkatkan soliditas keluarga tersebut.

Begitu juga acara buka bersama yang diadakan dalam komunitas tertentu, seperti
di masjid untuk lingkungan RT, di kantor untuk lingkungan kerja, di kampus
untuk civitas akademika, di organisasi massa atau lingkungan para pejabat
negara, tentu juga akan meningkatkan kebersamaan.

Kegembiraan waktu berbuka, gelak tawa, dan canda serta obrolan-obrolan ringan
menjelang berbuka puasa tentu sangat bermanfaat untuk meningkatkan kebersamaan.
Sekat, sumbat, dan hambatan komunikasi yang hari-hari biasa sukar dihilangkan,
dalam suasana berbuka bersama akan mudah terpecahkan.

Di samping acara buka puasa bersama yang diadakan dalam komunitas tertentu,
juga tidak sedikit para muhsinin yang menjamu orang-orang miskin dan anak-anak
yatim untuk berbuka puasa bersama.

Ada yang menjamu langsung ke rumah yang bersangkutan, dan ada juga yang
mengadakannya di panti-panti asuhan atau cukup mengirim paket buka puasa dalam
jumlah tertentu.

Tidak sedikit juga yang di samping jamuan buka puasa, mereka membagikan tanda
mata atau rupa-rupa hadiah berupa barang-barang keperluan harian, perlengkapan
shalat, dan perlengkapan sekolah.

Hal yang perlu diperhatikan dalam menjamu dan membagi-bagikan bantuan untuk
kaum yang tidak berpunya itu adalah cara menyampaikannya.

Harus diberikan dengan cara-cara yang mulia, artinya tetap memuliakan mereka
yang tidak beruntung secara finansial tersebut. Jangan lagi terjadi kecerobohan
dalam membagi-bagikan bantuan sehingga tidak hanya terkesan merendahkan
martabat fuqara dan masakin, tapi juga dapat membahayakan nyawa mereka seperti
sudah pernah terjadi beberapa kali.

Penulis terkesan pernah mendampingi wali kota dan wakil wali kota suatu kota,
bersama pejabat sipil dan militer mengantarkan paket bantuan ke rumah-rumah
orang-orang miskin.

Data orang-orang miskin beserta alamat mereka dikumpulkan oleh para reporter
media yang biasa meliput di kantor-kantor pemerintahan setempat. Ini merupakan
kerja sama yang indah dan bermanfaaat. Demikianlah sekelumit gambaran
kebersamaan dalam bulan Ramadhan yang dapat meningkatkan solidaritas umat.***

Kirim komentar Anda disini

Komentar