Sabtu , Oktober 16 2021

Afrika Berduka Atas Kepergian Mandela

Johannesburg- Kabar meninggalnya mantan presiden Afrika Selatan menyebar cepat dan membuat ratusan orang berkumpul di luar rumah Nelson Mandela di Houghton, Johannesburg. Suasana tidaklah muram, tetapi lebih tampak hidup.

Sejumlah orang bernyanyi dan bergoyang. Seorang pria meniupkan Vuvuzela, terompet plastik yang banyak dipakai pada Piala Dunia 2010 yang berlangsung di negara itu. Sekumpulan orang datang menuju rumah dan berteriak: “Nelson!”

Mereka mengambil foto, menyalakan lilin, memberikan bendera nasional, dan rangkaian bunga. Sebuah potret Mandela yang sedang tersenyum diletakan pada sebuah pohon dengan tulisan: “Beristirahatlah dalam damai, Madiba.”

“Saya kecewa, saya sedih,” kata Thumelo Madikwe, seorang akuntan berusia 29 tahun, seperti dilaporkan AP pada BBC London. “Tetapi di saat yang bersamaan, dia sudah menjalani hidup dan dia menjalaninya dengan sangat baik. Tidak apa-apa dia pergi. Dia sudah tua.”

Ini tak hanya tampak seperti duka, tetapi juga sebuah perayaan bagi kehidupan Mandela yang telah menginspirasi banyak orang. Mandela meninggal dunia pada usia 95 tahun setelah menjalani perawatan karena infeksi paru-paru selama tiga bulan terakhir.

Di Lapangan Nelson Mandela di kompleks perumahan elit Sandton, Johannesburg, enam orang berdiri di depan patung Mandela setinggi enam meter. Dua orang berkulit putih, dua berkulit hitam, dan dua lagi keturunan Indian, mewakili “ragam bangsa” di negara itu yang Mandela perjuangkan dalam hidupnya.

“Selama 23 tahun, saya mengikuti jalan pria ini sejak dia dibebaskan,” kata Sonja Pocock, pria berkulit putih berusia 46 tahun. “Saya berasal dari rezim lama. Dia seperti kakek saya. Dia adalah kakek saya.”

“Saya menyanjungnya. Dia berjuang untuk kebebasan dan kesetaraan,” kata yang lain. “Bahkan jika sebagian orang mengatakan dia adalah teroris, dia tetap teguh pada pendiriannya.”

“Setiap orang memiliki hak untuk hidup. Tidak peduli apakah dia kaya, miskin, hitam, atau putih. Itulah yang dia perjuangkan, dan untuk pengampunan.”

Pembela hak asasi manusia George Bizos mengatakan kepada televisi ENCA bahwa Mandela, seorang teman lama, tidak pernah goyah dalam dedikasinya untuk cita-cita non-rasial dan demokratis. “Dia lebih besar dari kehidupan,” kata Bizos. “Kami tidak akan lagi menemukan orang seperti dia.” (tjk/hs)

Kirim komentar Anda disini

Komentar