Senin , Oktober 18 2021

Allah pun Suka

Oleh: Ustaz Hasan
Basri Tanjung MA
(
Ketua Yayasan Dinamika Umat dan
Dosen Unida Bogor
)
“… dan
orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah
menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. 3:134).
Hari Raya
Idul Futri memiliki kesan tersendiri bagi setiap orang. Bagi Penulis, lebaran
tahun ini begitu bermakna. Empat tahun tidak mudik ke kampung nun jauh, Patihe,
Sei. Kanan, Labusel, Sumut. 
Perjalanan
selama tiga hari tiga malam menelusuri jalan lintas timur Sumatera. Sebagian
besar masjid nan megah di berbagai kota pun disinggahi, meski sulit menemukan
masjid yang bersih.
Menjadi Imam
dan Khatib Shalat Ied di pinggiran tebing yang curam dikelililingi sungai yang
bening. Lalu, ziarah ke kuburan kedua orang tua tercinta. 
Doa disertai
derai air mata kerinduan pun dipanjatkan. Kiranya mereka dikumpulkan kelak
bersama para Nabi, as-Shiddiqin, asy-Syuhada wa ash-Shalihin. Amin.  
Silaturrahim
menjadi misi utama perjalanan ini. Menurut Pakar Tafsir, Tuan Guru Prof Dr M
Quraish Shihab, dalam buku Membumikan
Al-Qur’an,
silaturrahim terambil dari kata shilat dan rahim. 
Shilat
(washl) artinya menyambung dan menghimpun. Berarti hanya yang terputus dan
terserak yang dituju kata shilat. Kata rahim pada mulanya berarti kasih sayang, kemudian berkembang
menjadi peranakan (kandungan).
Biasanya,
anak yang dikandung selalu mendapatkan curahan kasih sayang. Silaturrahim
berintikan rasa kasih sayang yang diwujudkan dengan pemberian atau hadiah yang
tulus.

Nabi SAW. pernah berpesan : Laysa
al-muwashil bil mukafi’ wa lakin al-muwashil ‘an tashil man qatha’ak
.
Artinya, bukanlah bersilaturrahim orang yang membalas kunjungan atau pemberian,
tetapi yang bersilaturrahim adalah yang menyambung apa yang terputus (HR.
Bukhari). Demikian pula keuntungan silaturrahim akan menambah keberkahan umur
dan rezki. (HR. Bukhari).

Dalam hidup
ini, Kita akan menghadapi sikap manusia yang buruk dan menyakitkan. Apalagi
keburukan itu dari orang yang sepatutnya berbuat baik kepada kita atas segala
kebaikan yang pernah diberikan. Air susu di
balas air tuba
, begitu kata pepatah. 
Nabi SAW.
juga pernah merasakan sakit hati yang sangat, ketika Paman tercinta Hamzah ra,
disayat-sayat hatinya lalu dikunyah oleh Hindun. Beliau pun bertekad untuk
membalas lebih dari perlakukan itu. Tapi Allah SWT menegurnya agar bisa
bersabar (QS.16:126).

Al-Qur’an memberi petunjuk, bagaimana sepatutnya menyikapi keburukan atau
kesalahan orang lain. Mereka yang mampu melakukan akan termasuk orang yang
disukai oleh Allah SWT dan patut diberi ganjaran surga (QS.3:133-136).  

Dalam Tafsir
Al-Misbah, M. Quraish Shihab menyebutnya sebagai kelas atau jenjang sikap
manusia. Penulis rumuskan dengan empat  M. Tiga merujuk ke surah Ali Imran
: 134 dan satu ke Surat an-Nuur : 22.  
Pertama,
Menahan amarah (al-kazhimin al-ghaidzo).
Kata al-Kadzhimin menunjukkan makna penuh
dan “menutupnya dengan rapat”, seperti wadah yang penuh air lalu ditutup rapat
agar tidak tumpah. 
Artinya,
perasaan tidak bersahabat masih memenuhi hati yang bersangkutan, pikiran masih
menuntut balas. Tetapi ia tidak memperturutkan ajakan hati dan pikirannya.
Dia menahan
diri sehingga tidak mencetuskan kata-kata buruk atau perilaku negatif. Orang
yang tidak mampu menahan amarah (emosi), akan membayarnya lebih mahal dari
tindakannya. 
Kedua,
Memaafkan kesalahan (al-‘aafina ‘an an-naas). Kata maaf berasal dari al-afwu
yang artinya menghapus. Karena yang memaafkan akan menghapus bekas-bekas luka
di hatinya. Bukanlah memaafkan jika masih ada tersisa bekas luka di dalam hati
dan dendam yang membara. 
Pada
hakikatnya, kita diperintahkan memberi bukan meminta maaf. Memberi maaf itu
tindakan terpuji, dan meminta itu terhinakan.
Karenanya,
memberi maaf kepada orang yang melakukan kesalahan, sebelum ia meminta maaf
adalah sikap terpuji. Bagi yang melakukan kesalahan, akuilah dengan jujur dan
kembalikan apa yang pernah diambil darinya.  
Ketiga,
Melapangkan dada (al-shafhu). Sikap ini lebih tinggi dari memaafkan (al-afwu).
Kedua kata ini disandingkan dalam satu ayat. “Hendaklah
kamu memaafkan dan melapangkan dada
.” (QS.24:22).  
Al-shafhu
berarti kelapangan. Dari kata ini pula muncul shafhat (lembaran atau halaman)
dan mushafahat (berjabat tangan).
Dengan
demikian, orang yang melakukan al-shafhu dituntut untuk melapangkan dadanya,
sehingga mampu menampung segala ketersinggungan dan dapat menutup lembaran lama
dan membuka lembaran baru.
Keempat,
Melakukan kebaikan (ihsan). Inilah tingkat tertinggi dari sika-sikap terpuji
terhadap kesalahan orang lain. Bukan hanya menahan amarah, memaafkan dan
melapangkan dada, namun mampu berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk. 
Juga,
menjalin silaturrahim dengan orang yang memutuskannya.  Kata yuhibbu
(mencintai) sebanyak 18 kali dalam al-Qur’an dan lima kali ditujukan kepada
al-muhsiniin (orang-orang baik). Yakni orang yang berbuat baik kepada orang
bersalah atau berbuat lebih baik kepada orang yang telah berbuat
baik.   
Keempat
sikap terpuji di atas adalah karakteristik orang-orang bertakwa (al-muttaqin)
sebagai tujuan akhir dari ibadah puasa (QS.2:183) dan seluruh ibadah dalam
Islam. Oleh karena itu, sikap terpuji ini hanya mampu dilakukan oleh orang yang
bertakwa kepada Allah SWT.  
Insya Allah,
detak jantung akan normal, aliran darah lancar, nafas akan lega, pikiran jernih
dan otot terasa rileks. Kinerja  meningkat, rezki bertambah dan umur jadi
berkah. Allahu a’lam bish-shawab.

Kirim komentar Anda disini

Komentar