Senin , Oktober 18 2021

Banyak Peserta mandiri menunggak premi BPJS Kesehatan

Detak kampar.com Kepala BPJS Kesehatan Cabang Pekanbaru,
Mairiyanto mengatakan, sejak 1 Januari 2014 setelah diimplementasikannya
program BPJS Kesehatan itu banyak peserta yang menunggak membayar premi dengan
modus kelakuan antara lain peserta ada yang membayar premi mulai Januari sampai
dengan Juli 2014, setelah mendapatkan pelayanan kesehatan untuk tindakan medis
operasi melahirkan pada Juli 2014, pada Agustus 2014 peserta tidak lagi mau
membayar premi. 

 

Padahal, menurut Mairi, melalui program JKN
yang bersifat gotong royong tersebut, maka biaya kesehatan tidak lagi
ditanggung sendiri oleh individu atau keluarga. Ia mengatakan, sifat gotong
royong dimaksudkan adalah berupa subsidi antara yang sehat dan sakit, antara
yang muda dan tua, serta antar daerah.
“Jadi kalau peserta mandiri menunggak,
tentu akan menggangu kelancaran program JKN ini,” katanya dan menambahkan
saat ini lebih dari lima puluh persen peserta mandiri yang menunggak sedangkan
untuk kepesertaan yang dibayarkan perusahaan juga cukup banyak.
Data BPJS Kesehatan Cabang Pekanbaru
menunjukkan bahwa peserta BPJS Kesehatan Cabang Pekanbaru hingga pertengahan
Agustus 2014 sudah mencapai 447.887 jiwa yang terdiri atas peserta PBPU (Peserta
Bukan Penerima Upah) atau mandiri yang telah terdaftar sebanyak 89.729 jiwa.
Sementara untuk peserta PPU (Pekerja Penerima Upah) PNS sebanyak 332.500 jiwa,
Polri sebanyak 12.429 jiwa, TNI AU 1.894 jiwa dan TNI AD 11.335 jiwa. Jumlah
tersebut berasal dari wilayah kerja cabang Pekanbaru yang meliputi Kabupaten
Kuansing, Kampar, Pelalawan, Rohul, Inhu, Inhil, dan Kota Pekanbaru. 
Mairiyanto menjelaskna, jika pengguna BPJS
Kesehatan menunggak pembayaran premi maka beban keuangan mereka akan bertambah
karena juga dikenakan denda sebesar 2 persen. Jika tiga bulan mereka menunggak,
pada premi yang dibayarkan misalnya sebesar Rp25.000/jiwa akan menjadi Rp75
ribu, lalu dengan tiga anggota keluarganya yang lain total menjadi Rp75 ribu x
tiga bulan akan menjadi Rp225 ribu dan itupun belum termasuk denda 2 persen.
“Padahal, dengan lebih disiplin membayar
premi setiap bulan akan jauh lebih ringan ketika menunggu pembayaran yang
menumpuk, itu pun karena jatuh sakit yang harus mendapatkan perawatan dan
pengobatan, maka memang harus membayar semuanya,”katanya. (antara)

Kirim komentar Anda disini

Komentar