Minggu , Desember 5 2021

Beban Hidup Tak Menghalangi Tukang Bubur dan Penjual Sayur ini Menunaikan Ibadah Haji “

Detak kampar.com, Sepanjang sejarahnya, perjalanan ibadah haji selalu
memiliki kisah – kisah menarik penuh hikmah. Ibadah yang membutuhkan kekuatan
dan kemampuan lebih materi ini memang menjadi harapan hampir semua umat Islam
bisa untuk menunaikannya. Ya, panggilan ibadah haji ke Tanah Suci memang tak
pandang bulu, semua umat Islam wajib melaksanakannya dengan syarat memiliki
kemampuan. Tafsiran tentang kemampuan inilah yang sering membedakan, sebab
masing- masing orang memiliki penilaian sendiri tentang batas kemampuan tersebut.
Kisah Buk Sumiati, seorang pedagang sayur di pasar
tradisional, yang bisa berangkat memenuhi panggilan Ilahi tentu sangat
menggugah hati. Meski perjuangannya tentu tidak mudah. Janda dengan sembilan
anak ini harus mengumpulkan uang selama 20 tahun lebih. Sejak tahun 1982 ia dan
suami setiap hari mengumpulkan keuntungan dari berjualan sayur Rp1.000 hingga
Rp2.000 dari pendapatannya yang hanya Rp30 ribu per hari, untuk disisihkan ke
tabungan haji.
Namun sayang, Sumiati justru sangat sedih. Suami yang dicintainya
tidak bisa ikut pergi bersamanya ke Tanah Suci. Suaminya tewas ditabrak kereta
empat tahun lalu, ketika sedang mendaftar haji di salah satu kelompok bimbingan
haji. Meski begitu, Sumiati tetap bertekad berangkat ke Tanah Suci. Di tahun
ini, dia diberi kesempatan untuk menunaikan rukun Islam kelima itu.
Selain Buk Sumiati, kisah yang hampir sama juga dialami Ibu
Nani Sulaiman seorang janda penjual mie cakalang di Kota Manado, Sulawesi
Utara. Selama empat tahun menunggu, akhirnya tahun ini dia pun mendapat
kesempatan berangkat ke tanah suci. Nani mengaku bahagia, bisa memenuhi
panggilan Ilahi. Wajah Nani tampak bahagia, meski air matanya menetes. Dia
haru, dan masih belum percaya bisa menunaikan ibadah haji.
Beban hidup Ibu Nani pasca suaminya meninggal pada tahun
2007 ini tidaklah mudah. Ia harus bekerja keras untuk menghidupi tiga orang
anaknya. Dengan semangat menghidupi keluarga dan keinginannya berangkat haji
yang telah ia cita- citakan bersama almarhum suami sejak tahun 2000, Nani terus
bekerja keras.
Dia dan suami sudah cukup lama berjualan bubur,
Kesehariannya, Nani Sulaiman bersama suami biasa berjualan di basement Masjid
Raya Ahmad Yani, Kota Manado. Sejak tahun 2000 itulah ia dan suami mulai
mengumpulkan biaya untuk pergi haji. Meski sempat terkendala karena harus
bekerja keras menghidupi keluarga pasca meninggalnya suami tercinta, akhirnya
niat Neni beribadah haji mendekati kenyataan juga. Pasalnya, dia mendapat
warisan dari sang mertua sebesar Rp 60 juta. Uang itu dibagi untuk ketiga anaknya
masing-masing Rp15 juta. Lalu sisanya ia gunakan untuk mendaftar haji. “
Karena menunaikan haji sudah ada dibenak saya sejak suami
saya masih hidup,” kata Nani, di Masjid Awwaby, ketika akan dilepas untuk
berangkat ke tanah suci. Nani menyalami sanak saudaranya untuk berpamitan.
Sambil memegang koper, menuju bus rombongan calon haji Babussalam.
Kisah kedua calon jemaah ini bisa menjadi inspirasi bagi
kita. Kerja apapun, selama itu didapat dengan cara halal, dibarengi dengan doa
dan niat yang kuat, Insya Allah akan dikabulkan. (dr)

Kirim komentar Anda disini

Komentar