Senin , November 29 2021

Dua Pilot Indonesia Gabung ke ISIS, AFP Bungkam

Detak kampar.com  Polisi
Federal Australia (AFP) bungkam ketika dimintai komentar mengenai laporan
mereka tertanggal 18 Maret 2015 kemarin. Dalam laporan berjudul
“Operational Inteligence Report: identification of Indonesian pilots with
possible extrimist persuasions”, AFP menduga dua eks pilot asal Indonesia,
Ridwan Agustin dan Tommy Hendratno menjadi korban radikalisasi dan bergabung dengan
kelompok militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). 

Kepada
media The Intercept, AFP menolak memberikan komentar mengenai laporan
mereka yang bocor itu. Mereka beralasan isu tersebut terkait masalah intelijen.
“AFP tidak mengomentari isu terkait masalah intelijen,” ujar juru
bicara AFP seperti dikutip The Intercept, Rabu, 8 Juli 2015.
Mereka
mengatakan, itu sudah menjadi kebijakan AFP sejak lama. “AFP tetap
mempertahankan hubungan kuat dengan mitra penegak hukum di dalam dan luar
negeri untuk memastikan keselamatan warga Australia ketika mereka berada di
dalam atau luar negeri,” ujar juru bicara AFP menambahkan.
Biro
Penyidik Federal Amerika Serikat (FBI) yang juga ikut melihat laporan itu turut
menolak memberikan komentar. Selain didistribusikan ke rekan mereka di AS, AFP
turut mengedarkan laporan itu ke otoritas berwenang di Turki, Yordania, dan
Inggris. Bahkan, laporan itu juga ikut disebarkan ke polisi interpol di Eropa.
Namun,
tak disebutkan jika laporan itu turut dibagi ke otoritas di Indonesia. Laporan
yang dibuat AFP hanya berdasarkan pantauan mereka di Facebook.
Ridwan
diketahui sempat menjadi pilot maskapai AirAsia sejak tahun 2010 lalu. Tetapi,
pada pertengahan September tahun lalu dia berubah menjadi sosok radikal dan
tertarik untuk bergabung bersama kelompok ekstrimis ke Kobani, Suriah. Diduga,
kini dia bersama sang istri, Diah Suci Wulandari, telah berada di kota Raqqa,
Suriah.
Sementara,
Tommy Hendratno sempat menjadi pilot jet pribadi yang biasa digunakan untuk
mengangkut tamu VIP, Premiair. Tommy diketahui mulai menjadi radikal pada
pertengahan tahun 2014 lalu. Melalui akun Facebooknya, dia mulai menyatakan
rasa dukanya terhadap penderitaan umat Muslim di seluruh dunia.
Manajer
pengendali kualitas dan keselamatan Premiair, Norman Sukardi, mengatakan sudah
mendengar Tommy adalah salah satu simpatisan ISIS. Tetapi, pihak perusahaan tak
mengetahui jika Tommy aktif mempublikasikan artikel mengenai ISIS. Tommy pun
dilaporkan mundur dari Premiair pada 1 Juni lalu. ***

Kirim komentar Anda disini

Komentar