Sabtu , November 27 2021

KGF Tanggapi Serius Mengenai Solusi Bencana Geologi di Riau dan Sekitarnya

27752978-501b-4e62-b4be-f659247a2cee

Detakkampar.co.id PEKANBARU – Berdasarkan peta prakiraan curah hujan pada Bulan Mei hingga Juni yang telah diupdate pada tanggal 10 April 2016 oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Riau memiliki curah hujan yang diklasifikasikan cukup rendah. Volume limpasan curah hujan rata-rata 100-150 mm, hal ini akan berdampak pada musim kemarau. Selain itu juga akan memicu kepada polemik kabakaran lahan gambut yang selalu mewarnai Provinsi Riau tiap tahun dan belum menemui solusi penanganan yang tepat.

Pelatihan Sistem Informasi Geografi yang diselenggarakan oleh konsultan GeoLog Forensic yang dihadiri oleh Batara, B.Sc (Hons), M.Sc, Bilal Al Farishi B.Sc (Hons), M.Sc, Multihadi, ST, dan juga hadir wakil dari Teknik Geologi Universitas Islam Riau iaitu Catur Cahyaningsih B.Sc (Hons), M.Sc pada Rabu lalu (4/5/2016)

kepada awak media Batara menjelaskan “Pendekatan Sistem Informasi Geografi (SIG) merupakan metode yang tepat untuk mitigasi bencana kebakaran lahan di Riau ini, antara kawasan yang perlu mendapatkan perhatian khusus adalah penyumbang titik api di Riau ini diantaranya Meranti, Pelalawan, Rokan Hilir, Indragiri Hulu dan Kampar.

a9f2bde2-b6e6-4741-b7e4-1565855d83dc

Batara juga menambahkan “Kami bersedia bersinergi dengan 8 user ini jika memang diperlukan oleh Pemerintah Provinsi Riau karna anggota GeoLog Forensic juga terdapat konsultan yang telah berpengalaman 10 tahun melakukan penelitian dan observasi di bidang Sistem Informasi Geografi ini.”imbuhnya.

Disisi lain Bilal Al Farishi sebagai Project Manager bagian tata lingkungan juga menambahkan “Sistem Informasi Geografi ini mampu menangani permasalahan bencana kebakaran hutan dengan memberikan informasi berupa pendeteksian titik hotspot terbaru, perkiraan penyebaran asap dan api, manajemen emergency dan evakuasi, dan pemberian solusi terhadap pilihan tanaman dalam melakukan replanting akibat kebakaran hutan.

Sementara itu Multihadi sebagai Project Manager disela-sela kesibukannya meng-intsall aplikasi ini menambahkan “Secara prakteknya Sistem Informasi Geografi ini harus berintegrasi dengan 8 user diantaranya Admin, Pemerintah, Dephut, BPB, Satgas, Swasta, Media, dan Masyarakat. Seorang Admin memiliki wewenang untuk mengupdate informasi prosedur penanganan dan pengendalian kebakaran.”tuturnya.

Catur Cahyaningsih yang dalam hal ini hadir memenuhi undangan pelatihan ini bertutur “Sebagai dosen pengampu mata kuliah Sistem Informasi Geografi (SIG) mengatakan,’saya senang sekali mendapatkan undangan pelatihan sedemikian, karena akan menambah lagi pengetahuan dan kemahiran saya dalam penggunaan aplikasi SIG ini.’ujarnya.

‘Harapan saya ke depan sebagai kalangan akademis, mendukung GeoLog Forensic menyelenggarakan pelatihan SIG ini kepada para user/stakeholder dan membuka workshop aplikasi sejenis mulai dari beginner, intermediate hingga advance kepada mahasiswa Teknik Geologi khususnya dan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota (Planologi), Teknik Lingkungan dan Teknik Sipil se-Provinsi Riau.

Dan harapan saya sebagai warga sipil, berharap tidak ada lagi terjadi kebakaran lahan di Riau ini, agar aktivitas masyarakat tidak terganggu dan mudah menghirup oksigen setiap harinya. Kebakaran lahan yang terjadi 2015 lalu sangat menggangu aktifitas belajar mengajar di kampus dan mahasiswa sering kali dibatalkan kelas mata kuliahnya.” tutupnya.(dir)

Kirim komentar Anda disini

Komentar