Sabtu , November 27 2021

MUI : Kami Tak Mau Hanya Jadi Tukang Stempel Halal

Detak kampar.com, JAKARTA–Majelis Ulama Indonesia (MUI) tidak mau hanya menjadi “tukang cap stempel” sertifikasi produk halal dalam Rancangan Undang-undang Jaminan Produk Halal (JPH).

“Kewenangan menjalankan sertifikasi halal harus tetap dijalankan oleh MUI. Tidak hanya mengenai sekedar label, tetapi keseluruhan rangkaian sertifikasi,” ujar Ketua MUI KH Amidhan Shaberah dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.

Rangkaian kegiatan sertifikasi meliputi menyusun dan menetapkan standar halal, melakukan pemeriksaan, menetapkan fatwa kehalalan produk, dan menerbitkan sertifikat halal.

“Keempat fungsi di atas merupakan satu-kesatuan yang terintegrasi. Baik dari aspek syariah maupun sains dan teknologi,” tambah Amidhan.

MUI melalui Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) sudah melakukan kegiatan sertifikasi halal sejak 25 tahun lalu.

“Hakikat halal merupakan subtansi keagamaan Islam yang terkait langsung dengan fatwa ulama,” tegasnya.
Standar halal MUI sudah diterima, diakui dan diterapkan di Indonesia serta diadopsi secara internasional.

Selain itu, MUI juga memiliki tenaga terlatih dan profesional dibidang pangan, obat-obatan, kosmetika, dan barang gunaan lainnya.

Peran tersebut membutuhkan regulasi berupa pelimpahan wewenang dari negara kepada MUI yang secara tegas dituangkan dalam RUU JPH.

“Pimpinan MUI mengharapkan dukungan pimpinan DPR, pemerintah, serta segenap komponen masyarakat untuk mengakomodasikan peran MUI dalam menjalankan sertifikasi halal secara penuh yang perlu diatur dalam RUU JPH,” katanya.

Direktur LPPOM MUI, Lukmanul Hakim, mengatakan pihaknya sudah mengeluarkan sertifikat halal kepada 1.270 perusahaan.

“Bahkan minggu lalu, menteri-menteri riset dan teknologi se-Asia Tenggara melakukan kunjungan ke kantor LPPOM MUI di Bogor. Mereka ingin mengetahui mengenai sertifikasi halal,” kata Lukman.
Dengan demikian, sambung Lukman, Indonesia telah menjadi teladan di bidang sertifikasi halal.

Dalam praktiknya, pengajuan sertifikasi halal bisa dilakukan melalui dalam jaringan atau online. Bisa diakses melalui komputer ataupun menggunakan telepon seluler.

“Oleh karena itu, fungsi LPPOM MUI ini jangan dirombak,” imbuh Lukman.

Pembahasan RUU JPH sudah berlangsung sejak 2004. Namun hingga saat ini, masih mengalami tarik ulur. Poin-poin yang masih diperdebatkan seperrti siapa yang akan melaksanakan sertifikasi dan penetapan sertifikasi itu kewajiban atau hanya sekedar sukarela.(dir/Republika)

Kirim komentar Anda disini

Komentar