Mulyati Mahasiswa IPB Asal Riau Olah Sampah Jadi BBM

Foto : Masyarakat bersama tim SamBer mengoperasikan alat pengolah sampah menjadi BBM
Sumber: Dokumentasi Tim SamBer

BOGOR, DETAKKAMPAR.CO.ID – Sampah Berdaya, Inovasi Mahasiswa IPB University dalam rangka mengolah sampah menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) melalui pemberdayaan masyarakat sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.

Kegiatan ini digagas oleh mahasiswa IPB University yang beranggotakan Mulyati Kholida, Lazuardi Bahrul Hidayat, Irma Syofyanti, Maesaroh dan Rabbani Elha Ahmad dengan Dosen Pembingbing Lukmanul Hakim Zaini., S.Hut, M.Sc.

Pembangunan ekonomi adalah usaha untuk meningkatkan taraf hidup suatu bangsa yang seringkali diukur dengan tinggi rendahnya pendapatan riil per kapita.

Peranan tenaga manusia banyak ditentukan oleh jumlah dan kualitas tenaga kerja yang tersedia di berbagai bidang kegiatan.

Selain Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), Sumber Daya Alam (SDA) dan kapasitas produksi, salah satu faktor dinamika lainnya dalam pembangunan ekonomi jangka panjang yaitu Sumber Daya Manusia (SDM).

Perbaikan kualitas sumberdaya manusia akan berdampak pada kesempatan kerja yang lebih baik. Sehingga pendapatan riil yang diharapkan cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

Namun tingkat pengetahuan yang rendah searah dengan tingkat penerimaan pendapatan. Permasalahan ini yang dirasakan oleh banyak daerah tertinggal, terluar dan terdepan (3T). Salah satunya adalah Desa Galuga.

Ketua PKM Pengabdian pada Masyarakat, Mulyati Kholida alumni SMAN 1 Bangkinang Kota yang saat ini tercatat sebagai mahasiswa di IPB University (Institut Pertanian Bogor) Jumat (20/7/2019) kepada Detak Kampar menyampaikan, Desa Galuga Merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor dengan luas wilayah 172.5 Ha yang terbagi dalam 4 Dusun, 6 Rukun Warga (RW), 13 Rukun Tetangga (RT). Desa merupakan salah satu desa yang menjadi tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA).,” tuturnya.

“Tercatat tempat pembuangan akhir sampah memiliki luas sekitar 20 Ha. Selain itu, Desa Galuga juga memiliki tingkat pernikahan dini yang besar dan pendidikan yang rendah sehingga akan berdampak pada kurangnya kualifikasi pekerjaan,” teranya lagi.

“Kemampuan berhubungan erat dengan kemampuan fisik dan intelektual yang dimiliki orang untuk melaksanakan pekerjaan. Kurangnya pengetahuan diberbagai bidang menuntut masyarakat Desa Galuga bekerja dengan berapapun pendapatan yang diterima selama dapat memenuhi kebutuhan. Pekerjaan yang digeluti masyarakat Desa Galuga hanya bermodalkan kekuatan fisik tanpa intelektual,” sambungnya.

Yati menambahkan, Kampung Baru merupakan salah satu kampung di desa Galuga yang paling dekat dengan TPA dengan jarak kurang dari 100 meter. Kemudahan akses serta kurangnya pendidikan dan tuntutan ekonomi menyebabkan masyarakat Kampung Baru banyak yang berprofesi menjadi pemulung.

Namun sayangnya, sampah yang dikumpulkan hanya dijual secara langsung. Sejauh ini pengolahan sampah hanya dalam skala mikro, belum ada pengolahan sampah yang dapat meningkatkan nilai tambah dari sampah tersebut.

Sampah plastik apabila diolah secara baik dan benar dapat menjadi produk bernilai jual tinggi. Salah satu pengolahan sampah yang dikembangkan adalah mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar.

Sampah plastik merupakan permasalahan lingkungan hidup yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia dan dunia. Plastik merupakan produk serba guna, ringan, fleksibel,tahan kelembapan, kuat, dan relatif murah.

Karena berbagai kemudahan tersebut, seluruh dunia bernafsu untuk menghasilkan produk berbahan baku plastik. Namun, tanpa disadari, karakter dasar plastik, ditambah dengan penggunaan yang tidak ramah lingkungan, justru merusak lingkungan hidup.

Kota-kota didunia menghasilkan sampah plastik hingga 1,3 miliar ton setiap tahun. Menurut perkiraan Bank Dunia, jumlah ini bertambah hingga 2,2 miliar ton pada tahun 2025. Selama lebih dari 50 tahun, produksi dan konsumsi plastik global terus meningkat. Diperkirakan 299 juta ton plastik diproduksi pada 2013. Ini menghasilkan masalah lingkungan hidup yang sangat serius bagi umat manusia.

Menurut Program Lingkungan PBB (UNEP), antara 22% hingga 43% plastik yang digunakan diseluruh dunia dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir. Hal ini dapat diartikan sumber daya yang terbuang. Sampah yang terbuang berarti menyita ruang yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk hal lain. Bayangkan, berapa puluh hektar yang digunakan untuk pembangunan TPA dimana sebagian besar adalah sampah plastik?

Menumpuknya sampah yang ada serta rendahnya angka produktifitas dan pendapatan menyebabkan sebagian masyarakat Desa Galuga berprofesi sebagai pemulung. Namun, sampah yang dikumpulkan hanya dijual begitu saja. Sejauh ini sampah baru diolah secara mikro, belum ada pengolahan sampah yang dapat meningkatkan nilai tambah dari sampah tersebut menjadi latar belakang munculnya ide melakukan pemberdayaan masyarakat ini.

“Sampah yang terdapat di TPA Galuga sebenarnya bisa diolah menjadi BBM dan menjadi sumber penghasilan tambahan bagi warga desa,” kata Yati, selaku ketua tim.
Sampah plastik, lanjut Yati, merupakan ancaman serius karena menyebabkan pencemaran lingkungan terurama jika dibuang sembarangan.

Bahan bakar yang diperoleh berasal dari bahan baku plastik (Surono 2013). Sampah plastik yang dikonversi menjadi bahan bakar termasuk daur ulang tersier. Salah satu caranya dengan proses cracking (perekahan) yaitu dengan memecah rantai polimer menjadi senyawa dengan berat molekul yang lebih rendah. Hasil dari proses ini dapat digunakan sebagai bahan kimia dan bahan bakar (Panda 2011).

Tempat pembuangan akhir ini berpotensi untuk menjadi ladang ekonomi, masyarakat mengumpulkan dan menjual sampah secara langsung kepada pengepul. Melihat peluang ini, penulis berinisiatif membuat sebuah Organisasi Kerja “SamBer (Sampah Berdaya)” yang bekerja dalam bidang pengolahan sampah menjadi BBM (Bahan Bakar Minyak) sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat yang tinggal di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Galuga.

Bahan bakar minyak yang dimaksud adalah 60% solar, 25% bensin dan 15% minyak tanah dengan struktur kepengurusan berasal dari masyarakat sekitar TPA Galuga tepatnya masyarakat Kampung Baru RT 08/RW 05 Desa Galuga yang memiliki pendapatan di bawah Upah Minimum Regional (UMR) dan mayoritas bekerja sebagai pemulung.

Pengurus-pengurus bertindak sebagai penggerak dan masyarakat sekitar yang tertarik bergabung dengan organisasi kerja “SamBer” bertindak sebagai pekerja. Organisasi Kerja dijalankan dengan menggunakan program B3 yaitu, Berwawasan, Bergerak, dan Berdampak.

Dengan terbentuknya organisasi kerja “SamBer”, diharapkan masyarakat berkeinginan untuk menggali potensi yang bisa diperoleh dari mengolah sampah (Berwawasan), bersemangat untuk mengolah sampah menjadi produk yang bernilai jual tinggi (Bergerak), serta menambah penghasilan masyarakat sekitar TPA Galuga sehingga dapat meningkatkan perekonomian mereka (Berdampak).

Yati menegaskan, Tujuan yang ingin dicapai dalam pemberdayaan masyarakat ini adalah mengurangi dan mengatasi masalah sampah plastik serta meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengolah sampah plastik menjadi BBM yang berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat.

Peningkatan keterampilan dilakukan dengan cara mengolah sampah, terutama sampah plastic jenis thermoplastic menjadi Bahan Bakar Minyak. Selain itu, melalui pembentukan organisasi kerja “SamBer” dengan metode B3 (Berwawasan, Bergerak, dan Berdampak) diharapkan dapat menjadi wadah bagi keberlanjutan organisasi kerja pengolahan sampah yang mandiri.

Mahasiswa sebagai agent of change diharapkan mampu memberikan edukasi kepada masyarakat sehingga menambah pemahaman dan pengetahuan masyarakat.

Dalam program tersebut mahasiswa memberikan penyuluhan dan pelatihan memilah sampah organik dan anorganik, memilah kembali sampah anorganik jenis plastik yang dapat dijadikan bahan baku pembuatan BBM, memberikan pengetahuan mengenai distilator uap bertingkat dengan bantuan prototype sederhana, dimana distilator uap bertingkat dapat mengkonversi uap pembakaran sampah plastik menjadi BBM dan praktik mengenai tata cara penggunakan distilator uap bertingkat serta bagaimana cara menjernihkan minyak hasil kondensasi uap pembakaran sampah plastik.

Melalui program pemberdayaan masyarakat ini diharapkan mampu meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengolah sampah, sehingga sampah yang dikumpulkan tidak hanya langsung dijual saja tetapi menghasilkan suatu produk yang bernilai.

“jika program ini berjalan sempurna, harapannya dapat membantu menambah penghasilan masyarakat yang berprofesi sebagai pemulung dan tersusunnya buku panduan yang akan dikemas menjadi satu kesatuan media edukasi yang berpeluang mendapatkan paten ISBN (International Standart Book Number), serta media edukasi akan direkomendasikan untuk daerah sekitar tempat pembuangan akhir lainnya.” pungkas Yati.

(Yati)

Kirim komentar Anda disini

Komentar

Baca Juga

Sudah Benarkah Perppu Nomor 1 Tahun 2020? DPR RI Resmi Jadikan UU

Tanggal 31 Maret 2020, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) ...