Minggu , Desember 5 2021

Pada Masa Rasulullah Lebaran Juga Pernah Jatuh Pada Hari Jum’at



Detak kampar.com JAKARTA – Meski belum diputuskan resmi
oleh pemerintah, dalam hal ini kementerian agama, namun diperkirakan Idul Fitri
1 Syawal 1436 H jatuh pada hari Jum’at 17 Juli 2015.

Kejadian seperti ini juga pernah terjadi
pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Yang sering menjadi
pertanyaan, bagaimana dengan kewajiban sholat jum’at, apabila hari raya ied
jatuh pada hari Jum’at.
Diriwayatkan dari Iyas bin Abi Romlah
Asy Syamiy, ia berkata, “Aku pernah menemani Muawiyah bin Abi Sufyan dan
ia bertanya pada Zaid bin Arqom,
“Apakah engkau pernah menyaksikan
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertemu dengan dua ied (hari Idul
Fithri atau Idul Adha bertemu dengan hari Jumat) dalam satu hari?”
“Iya”, jawab Zaid.
Kemudian Muawiyah bertanya lagi,
“Apa yang beliau lakukan ketika itu?” “Beliau melaksanakan shalat
ied dan memberi keringanan untuk meninggalkan shalat Jumat”, jawab Zaid
lagi.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam
bersabda, “Siapa yang mau shalat Jumat, maka silakan melaksanakannya.”
Dari Atho, ia berkata, “Ibnu Az
Zubair ketika hari ied yang jatuh pada hari Jumat pernah shalat ied bersama
kami di awal siang. Kemudian ketika tiba waktu shalat Jumat Ibnu Az Zubair
tidak keluar, beliau hanya shalat sendirian.
Tatkala itu Ibnu Abbas berada di
Thoif. Ketika Ibnu Abbas tiba, kami pun menceritakan kelakuan Ibnu Az Zubair
pada Ibnu Abbas. Ibnu Abbas pun mengatakan, “Ia adalah orang yang
menjalankan sunnah (ajaran Nabi) [ashobas sunnah].
Jika sahabat mengatakan ashobas sunnah
(menjalankan sunnah), itu berarti statusnya marfu yaitu menjadi perkataan Nabi.
Diceritakan pula bahwa Umar bin Al
Khottob melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Ibnu Az Zubair. Begitu pula
Ibnu Umar tidak menyalahkan perbuatan Ibnu Az Zubair.
Begitu pula Ali bin Abi Tholib pernah
mengatakan bahwa siapa yang telah menunaikan salat ied maka ia boleh tidak
menunaikan salat Jumat. Dan tidak diketahui ada pendapat sahabat lain yang
menyelisihi pendapat mereka-mereka ini.
Namun yang perlu dicatat, keringanan
untuk tidak melaksanakan sholat Jum’at hanya berlaku bagi yang orang yang telah
melaksanakan shalat ied.
Dan imam masjid tetap dianjurkan untuk
melaksanakan salat Jumat agar orang-orang yang punya keinginan menunaikan salat
Jumat bisa hadir, begitu pula orang yang tidak salat ied bisa turut hadir.
Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama Hambali.***

Kirim komentar Anda disini

Komentar