Jumat , Oktober 22 2021

pola pemungutan suara dengan noken.

Detak kampar.com-Jakarta – Komisi Pemilihan Umum (KPU) menegaskan tidak mengakui pola pemungutan suara dengan noken. Cara ini biasa digunakan di sebagian masyarakat Papua, khususnya di wilayah pegunungan.

“Tidak
berlaku. Menggunakan asas langsung, umum, bebas, dan rahasia,” kata
Komisioner KPU Ferry Kurnia Rizkiyansyah, saat menjawab pertanyaan
detak kampar.com melalui pesan singkat, Senin (7/4/2014).

Ketua Dewan
Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Jimly Ashiddiqie, dihubungi
terpisah mengatakan apa yang telah ditetapkan KPU seharusnya dihormati.

“Sudah ditetapkan KPU dan tetap one man one vote,” kata Jimly saat dihubungi detak kampar.com.

Selama
ini pola pemilihan dengan noken digunakan dalam Pilkada dan Pilgub di
Papua. Namun, cara ini rupanya menjadi kekhawatiran pihak kepolisian.
Kapolda Papua Irjen Tito Karnavian menyebut, salah satu kerawanan jelang
Pemilu yang dihadapi salah satunya adalah pro-kontra sistem noken.

Ada
dua sistem noken yang biasa digunakan masyarakat di pegunungan Papua,
yaitu pola big men atau suara diserahkan dan diwakilkan kepada ketua
adat, dan pola noken gantung dimana masyarakat lain dapat melihat suara
yang telah disepakati masuk ke kantung partai yang sebelumnya telah
ditetapkan.

Dalam sistem noken ini, maka prinsip rahasia tidak
lagi berlaku. “Karena ini untuk menghargai sistem big men tadi, dimana
warga harus taat pada kesepakan yang telah dibuat dan dipimpin oleh
kepala suku,” kata Kapolda Papua Irjen Tito Karnavian, di Mapolda Papua,
Jl Sam Ratulangi, Selasa (1/4/2014), pekan lalu.

Menurut Tito,
praktik noken masih terdapat di beberapa wilayah pegunungan di Papua.
Ini dikarenakan faktor geografis dan ketersebaran masyarakat di wilayah
pegunungan itu sendiri atau mereka yang hidup tanpa akses informasi,
transportasi, atau pun komunikasi.***(joey)

Kirim komentar Anda disini

Komentar