Senin , November 29 2021

Revolusi hijau miliki dampak positif-negatif

Detak kampar.com Revolusi hijau memiliki dampak positif sekaligus negatif dalam sektor
pertanian, termasuk di Indonesia, kata pakar pertanian Institut
Pertanian Bogor Dr Arief Daryanto.

Pokok pikiran itu mengemuka dalam lokakarya yang digagas Perhimpunan
Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI), demikian keterangan pers yang
diterima di Bogor, Selasa.

Pada acara yang dihadiri Ketua Umum Perhepi yang juga Wakil Menteri
Perdagangan Dr Bayu Krisnamurthi itu, Arief Daryanto menyampaikan
materi pengantar dengan tema “Socio-Economic Consideration on
Agricultural Biotechnology”.

Dalam kesempatan itu dipaparkan dua bagian yaitu “Pembelajaran Dari
Revolusi Hijau” dan “Isu Sosial-Ekonomi Bioteknologi Pertanian”.

Arief Daryanto yang juga Direktur Program Pascasarjana Manajemen
Bisnis-Institut Pertanian Bogor (MB-IPB) menegaskan bahwa

“Revolusi Hijau” telah memberikan dampak positif dalam meningkatkan produktivitas pertanian dan pendapatan petani.

“Akan tetapi, Revolusi Hijau juga memiliki dampak negatif yang muncul dalam jangka panjang,” katanya.

Di antara dampak negatif itu, seperti petani yang terlibat hutang
untuk membayar paket program intensif pertanian, disparitas pendapatan
yang semakin melebar serta ketergantungan terhadap industri penyedia
“input” pertanian.

Ia mengatakan bahwa berbagai manfaat dapat diperoleh dari pertanian yang efisien yang menggunakan teknologi moderen.

Namun berbagai risiko menyangkut isu sosial-ekonomi pun tidak
dapat dihindari, seperti isu sistem pangan, isu kelembagaan, isu bisnis,
isu konsumen dan pasar, dan isu sosial.

Karena itu, lanjutnya, adalah langkah yang tepat jika PERHEPI
memberikan perhatian terhadap aspek-aspek sosial-ekonomi dari
bioteknologi di bidang pertanian ini.

Kirim komentar Anda disini

Komentar