Selasa , Oktober 19 2021

Rhoma Irama adalah sosok kebal hinaan. semua dijawab konsisten dengan karya dan perbuatan.

Detak kampar.com– Jakarta – Rhoma Irama adalah sosok kebal hinaan. Puluhan tahun dinistakan, semua dijawab konsisten dengan karya dan perbuatan.
Sementara
eksistensi Rhoma masih menyala, kemana kini—katakan saja, Benny
Subardja, anggota grup musik rock Giant Step, yang di awal 1970-an
mencap musik dangdut sebagai “musik tai anjing”? Konon, sebentar
menyisihkan kemungkinan pencipta nama ‘dangdut’ itu Putu Wijaya dalam
tulisannya di Majalah Tempo awal 1970-an, editor majalah musik Aktuil pun awalnya memunculkan istilah ‘dangdut’ tak lebih sebagai cemooh.

Jadi,
bila kini Rhoma banyak dicemooh gara-gara ‘kasus’ pencantuman kata
profesor dalam balihonya, sang Raja Dangdut itu tampak tenang-tenang
saja. “Saya risih dengan sebutan profesor itu. Karena itu tak pernah
saya gunakan. Tidak di kartu nama, tidak di dokumen-dokumen Soneta,”
kata Rhoma. Soal penambahan gelar di balihonya, menurut dia itu semata
inisiatif tim pendukungnya.Tetapi soal gelar itu, Rhoma
menganggapnya sah. “Saya dapatkan tahun 2005 dari sebuah universitas
Amerika. Tak pernah membayar seperak pun,” kata Rhoma. Ia memungkas
percakapan pendek itu dengan,” Panggil saya Rhoma saja.

“Rhoma adalah perintis sebuah genre musik dunia, dan
levelnya tidak di bawah para musisi dunia lainnya. Kalau kemudian ada
yang mengakuinya sebagai guru besar dalam musikologi, itu sah-sah saja.
Apalagi aturan main gelar itu di setiap negara tidak sama,” kata Hikam,
yang mengaku berbeda pandangan dengan Mendiknas Muhammad Nuh.Hanya
yang membuatnya kaget, mengapa Rhoma mau menerima gelar profesor dari
American University of Hawaii, yang menurut dia belum jelas
kredibilitasnya.

“Jadi, lembaganya yang membuat kaget. Rhoma punya
nama cukup besar dalam khazanah musik dunia, dan ia sangat layak jika
dianugerahi baik DrHC maupun profesor dalam musikologi dari universitas
paling ternama di AS atau di mana pun di dunia ini,” kata Hikam. “Dalam
urusan musik, Rhoma has remained one of the world music legends ever!”

“…Rhoma
seolah menjadi pembangun keseimbangan: memonitor kehidupan kaum elite,
dan mendistribusikannya ke kaum kebanyakan. Seperti dikatakannya dalam
lirik lagunya: Bagi mereka yang punya uang, berdansa-dansa di night
club. Bagi kita yang tak punya uang, cukup berjoget di sini…”***(joey)

Kirim komentar Anda disini

Komentar