Rabu , 12 Desember 2018

Sebuah Refleksi di Hari Anti Korupsi Internasional

Oleh: Masrul Ikhsan

DETAKKAMPAR.CO.ID – Tulisan ini sebagai sumbangsih untuk memperingati Hari Anti Korupsi Internasional yang diperingati setiap tanggal 09 Desember, dan tentunya dilihat dari perspektif penulis yang masih merupakan seorang pemula. Korupsi bukan hanya menjadi permasalahan yang dihadapi di negara berkembang, bahkan negara maju sekalipun juga kewalahan dan menganggap bahwa korupsi merupakan masalah yang rumit dan sulit untuk diatasi. Korupsi diibaratkan sebagai virus yang membawa penyakit menular yang sulit untuk disembuhkan.

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Transparency International dengan menggunakan indikator yang dikenal dengan nama Corruption Perception Index (CPI) dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mengalami peningkatan peringkat, yaitu pada tahun 2012, 2013, 2014 dan 2015 yang masing-masing menempati peringkat 118, 114, 107 dan 88. Namun data survey terakhir yang dikeluarkan oleh TI pada awal tahun 2017 kemarin Indonesia mengalami penurunan peringkat dari peringkat 88 pada tahun 2015 menjadi peringkat 90 dari 178 negara pada tahun 2016.

Dari survey tersebut, negara yang terbaik dalam penanganan korupsi masih dipegang oleh negara Denmark pada lima tahun terakhir yang selalu menduduki peringkat 1.
Sementara itu pada tahun 2017, survei Transparency International yang dilaksanakan di 12 Kota di Indonesia dengan total responden sebanyak 1200 orang. Survei menghasilkan Indeks Persepsi Korupsi yang menggambarkan tingkat korupsi pada level kota berdasarkan persepsi para ahli dan pelaku usaha. Dari hasil survei tersebut, Jakarta Utara dinobatkan sebagai kota paling bersih dari korupsi dengan nilai 73,9 yang disusul oleh Pontianak dan kota Pekanbaru. Sementara itu kota Medan menempati kota yang paling korup dengan nilai 37,4.

Hasil survey juga menyebutkan bahwa kota dengan persentase suap tertinggi ditempati oleh Bandung, yaitu sebesar 10.8% dari total biaya produksi. Di samping dari perspektif pengusaha, sebanyak 17% pelaku usaha mengaku pernah gagal dalam mendapatkan keuntungan karena pesaing memberikan suap. Sementara itu, kota dengan persentase biaya suap terendah adalah Makassar sebesar 1.8% dari total biaya produksi. Sedangkan sektor lapangan usaha yang dinilai paling tinggi potensi suapnya adalah air minum, perbankan dan kelistrikan.

Sebenarnya telah banyak teori yang diajukan dan dibahas dalam bangku sekolah maupun perkuliahan yang hanya menjadi sekedar wacana tanpa diikuti aksi nyata. Kita butuh tindakan-tindakan inovatif untuk dapat mengentaskan korupsi tersebut. Misalnya seperti yang dilakukan oleh negara Denmark yang telah menempatkan KPK di setiap instansi pemerintahannya. Di Denmark KPK tidak terpusat seperti yang ada di Indonesia, sehingga KPK lebih leluasa dalam melakukan pencegahan dan pengawasan setiap tindakan korupsi yang akan terjadi.

Pendidikan juga berperan sangat penting dalam pencegahan korupsi pada suatu negara. Seperti negara Finlandia yang selalu menduduki posisi lima besar dalam Indeks Persepsi Korupsi yang dilakukan oleh TI, dimana 100% masyarakat Finlandia telah melek huruf, sehingga menyebabkan warga finlandia menjadi lebih sadar akan hak dan kewajiban yang dimiliki, keterlibatan dalam melakukan review atas kebijakan pemerintah tentunya juga akan semakin kuat.


Kesadaran warga akan korupsi yang terjadi di lingkungan sekitar menjadi lebih baik dengan semakin tingginya tingkat pendidikan yang dimiliki. Sehingga orang orang akan melakukan korupsi akan berfikir dua kali karena pengawasan dari sekitarnya sendiri sangatlah ketat.

Kirim komentar Anda disini

Komentar

Baca Juga

One Day No Rice itu Wagu, Pak Bup

Gerakan One Day No Rice pertama kali dicanangkan Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail, untuk menggalakkan ...