Minggu , November 28 2021

Selain Terisolir Banjir, Warga Kampar Kiri Hulu Keluhkan Hancurnya Harga Karet

PhotoGrid_1457019707460Detak Kampar.co.id KAMPAR KIRI HULU – Bagi Ketua KNPI Rahmat Jevary Juniardo yang juga menjabat Anggota DPRD Kabupaten Kampar, kunjungan ke 4 desa di Kecamatan Kampar Kiri Hulu pada Selasa (1/3) lalu mengantarkan 1000 paket sembako dan 7 ton beras sangatlah berkesan. Ia mengatakan kunjungan itu juga sebuah pertemuan yang bermakna. Betapa tidak, hampir sebulan lalu merencanakan untuk datang mengirim bantuan tapi beberapa kali gagal dihadang cuaca ekstrim. Pada Selasa (1/3) kedatangan Ardo bersama Kepala BPBD Kampar Santoso dan rombongan disambut puluhan masyarakat perwakilan 4 desa yang terisolir akibat terputusnya jalan dan jembatan diterjang air bah beberapa pekan yang lalu. Dalam kesempatan itu Ardo menggunakan moment untuk berdialog dengan warga. Sedari awal pria berkacamata itu ingin banyak mendengar keluh-kesah warga yang terisolir akibat terputusnya akses.

Setelah berdialog dengan warga, Ardo menuturkan, bahwa 50% masyarakat disana mencukupi kebutuhan beras mereka dengan menanam padi di ladang-ladang milik mereka sendiri. “Sejak dulu kami sudah menanam padi. Itu sudah menjadi tradisi kami sejak dahulu kala,” ungkap Wandi salah seorang warga.

Disamping itu, warga disana memenuhi kebutuhan bahan pangan mereka dengan berbelanja ke Provinsi Sumatra Barat, tepatnya ke pasar Payakumbuh. Kabupaten Limapuluh Kota. Di Dusun Pilubang Nagari Harau ada beberapa pabrik beras. Ke sanalah biasanya warga membeli beras. “Kami beli langsung ke pabrik beras di Pilubang, Harau, Payakumbuh,” ujar Ari.

Tambah Ari, perjalan menuju Dusun Pilubang, Harau hanya memakan waktu 1 jam jika cuaca tidak hujan. Namun jika hujan turun baru lah perjalan menjadi lebih sulit dan memakan waktu berjam-jam. Menurutnya membeli beras ke pabrik tentu saja sedikit lebih murah dari pada membeli beras ke pasar atau di toko-toko beras. Dari dialog warga dengan Ardo terungkap bahwa persoalan mendasar warga disana bukanlah semata hanya bersumber dari banjir beberapa pekan yang lalu. Sejak lama warga disana sudah terbiasa “dilatih” alam untuk menghadapi musibah bersumber dari air yang turun dari langit dengan intensitas hujan yang tinggi di gunung. Namun, persoalan yang paling memukul warga adalah jatuhnya harga karet hingga ke titik terendah. “Saat ini harga karet hanya 3 ribu rupiah, persolan ini yang membuat kami menangis. Sementara hampir 100% warga kami berprofesi sebagai petani karet,” ungkap Joni Kades Pulau Permai.

Pantauan di lapangan, banyak kami temukan warga menyimpan karet-karet hasil sadapan mereka di samping rumah dan sebagian warga mengikatkan bongkahan karet mereka di sungai-sungai yang tak jauh dari pemukiman warga. Menurut Kades Pulau Permai, selama lebih setahun harga komoditi karet anjlok. Dan inilah persolan dan awal musibah bagi mayoritas warga di Kecamatan Kampar Kiri Hulu.

“Kepada Pak Ardo tolong perjuangkan nasib kami. Karet ini sudah menjadi mata pencaharian kami sejak dahulu sejak zaman orang tua-tua kami,” ujar Nedi. Harga karet senilai tiga ribu rupiah sangat tidak menguntungkan warga. harga itu belum dipotong beban upang angkut karet ke Payakumbuh senilai Rp. 2.500 /kg. Jika dipotong biaya angkut, warga hanya mendapatkan Rp. 500 /kg.

“Makanya dengan harga segitu (Rp.500, red) kami lebih memilih menyimpan karet dari pada menjualnya saat ini,” tutur Wargan yang lain. Kades Tanjung Permai Joni Antoni mengatakan saat ini warga membanting stir beralih profesi mengumpulkan getah kayu gaharu. Warga lebih memilih masuk ke hutan-hutan berminggu-minggu untuk mengumpulkan getah kayu gaharu. “Pekerjaan itu terpaksa dilakukan warga karena tidak punya pilihan lain lagi,” cetus Joni.

Menanggapi keluhan masyarakat petani karet, kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Kampar H Bustan melalui Kabid Informasi dan Pasar Afrizal mengaku tidak bisa berbuat banyak untuk mendongkrak harga karet saat ini. Dia mengatakan pihaknya belum mengetahui secara pasti penyebabkan jatuh harga komoditi andalan masyarakat Kampar setelah sawit ini. “Kita sampai ini belum bisa menyimpulkan mengapa harga karet ini belum juga naik. Saat ini kita hanya bisa berharap hancurnya harga karet ini tidak berlangsung lebih lama lagi,” pungkas Afrizal kepda wartawan Kamis (1/3) di Bangkinang.(dir)

KIRI HULU – Bagi Ketua KNPI Rahmat Jevary Juniardo yang juga menjabat Anggota DPRD Kabupaten Kampar, kunjungan ke 4 desa di Kecamatan Kampar Kiri Hulu pada Selasa (1/3) lalu mengantarkan 1000 paket sembako dan 7 ton beras sangatlah berkesan. Ia mengatakan kunjungan itu juga sebuah pertemuan yang bermakna. Betapa tidak, hampir sebulan lalu merencanakan untuk datang mengirim bantuan tapi beberapa kali gagal dihadang cuaca ekstrim. Pada Selasa (1/3) kedatangan Ardo bersama Kepala BPBD Kampar Santoso dan rombongan disambut puluhan masyarakat perwakilan 4 desa yang terisolir akibat terputusnya jalan dan jembatan diterjang air bah beberapa pekan yang lalu.

Dalam kesempatan itu Ardo menggunakan moment untuk berdialog dengan warga. Sedari awal pria berkacamata itu ingin banyak mendengar keluh-kesah warga yang terisolir akibat terputusnya akses.

Setelah berdialog dengan warga, Ardo menuturkan, bahwa 50% masyarakat disana mencukupi kebutuhan beras mereka dengan menanam padi di ladang-ladang milik mereka sendiri. “Sejak dulu kami sudah menanam padi. Itu sudah menjadi tradisi kami sejak dahulu kala,” ungkap Wandi salah seorang warga.

Disamping itu, warga disana memenuhi kebutuhan bahan pangan mereka dengan berbelanja ke Provinsi Sumatra Barat, tepatnya ke pasar Payakumbuh. Kabupaten Limapuluh Kota. Di Dusun Pilubang Nagari Harau ada beberapa pabrik beras. Ke sanalah biasanya warga membeli beras. “Kami beli langsung ke pabrik beras di Pilubang, Harau, Payakumbuh,” ujar Ari.

Tambah Ari, perjalan menuju Dusun Pilubang, Harau hanya memakan waktu 1 jam jika cuaca tidak hujan. Namun jika hujan turun baru lah perjalan menjadi lebih sulit dan memakan waktu berjam-jam.

Menurutnya membeli beras ke pabrik tentu saja sedikit lebih murah dari pada membeli beras ke pasar atau di toko-toko beras. Dari dialog warga dengan Ardo terungkap bahwa persoalan mendasar warga disana bukanlah semata hanya bersumber dari banjir beberapa pekan yang lalu. Sejak lama warga disana sudah terbiasa “dilatih” alam untuk menghadapi musibah bersumber dari air yang turun dari langit dengan intensitas hujan yang tinggi di gunung. Namun, persoalan yang paling memukul warga adalah jatuhnya harga karet hingga ke titik terendah. “Saat ini harga karet hanya 3 ribu rupiah, persolan ini yang membuat kami menangis. Sementara hampir 100% warga kami berprofesi sebagai petani karet,” ungkap Joni Kades Pulau Permai.

Pantauan di lapangan, banyak kami temukan warga menyimpan karet-karet hasil sadapan mereka di samping rumah dan sebagian warga mengikatkan bongkahan karet mereka di sungai-sungai yang tak jauh dari pemukiman warga. Menurut Kades Pulau Permai, selama lebih setahun harga komoditi karet anjlok. Dan inilah persolan dan awal musibah bagi mayoritas warga di Kecamatan Kampar Kiri Hulu.

“Kepada Pak Ardo tolong perjuangkan nasib kami. Karet ini sudah menjadi mata pencaharian kami sejak dahulu sejak zaman orang tua-tua kami,” ujar Nedi. Harga karet senilai tiga ribu rupiah sangat tidak menguntungkan warga. harga itu belum dipotong beban upang angkut karet ke Payakumbuh senilai Rp. 2.500 /kg. Jika dipotong biaya angkut, warga hanya mendapatkan Rp. 500 /kg.

“Makanya dengan harga segitu (Rp.500, red) kami lebih memilih menyimpan karet dari pada menjualnya saat ini,” tutur Wargan yang lain. Kades Tanjung Permai Joni Antoni mengatakan saat ini warga membanting stir beralih profesi mengumpulkan getah kayu gaharu. Warga lebih memilih masuk ke hutan-hutan berminggu-minggu untuk mengumpulkan getah kayu gaharu. “Pekerjaan itu terpaksa dilakukan warga karena tidak punya pilihan lain lagi,” cetus Joni.

Menanggapi keluhan masyarakat petani karet, kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Kampar H Bustan melalui Kabid Informasi dan Pasar Afrizal mengaku tidak bisa berbuat banyak untuk mendongkrak harga karet saat ini. Dia mengatakan pihaknya belum mengetahui secara pasti penyebabkan jatuh harga komoditi andalan masyarakat Kampar setelah sawit ini. “Kita sampai ini belum bisa menyimpulkan mengapa harga karet ini belum juga naik. Saat ini kita hanya bisa berharap hancurnya harga karet ini tidak berlangsung lebih lama lagi,” pungkas Afrizal kepda wartawan Kamis (1/3) di Bangkinang.(dir)

Kirim komentar Anda disini

Komentar