Senin , 26 Agustus 2019

Titik Kritis Ekonomi Indonesia



Detak kampar.com DENGAN kondisi rupiah yang sedang
hancur lebur seperti sekarang, ditambah beragam harga kebutuhan masyarakat yang
terkena inflasi, rakyat telah terpukul dua kali. Beli barang impor harganya
meninggi. Beli barang dalam negeri juga tak mampu lagi.

Meski masih ada yang coba menghibur
dengan bilang : ekspor kita akan berdaya saing karena harganya murah di luar
negeri. Yang terjadi padahal sebaliknya. Pemerintah juga menggunakan istilah
“ekonomi domestik baik” sama dengan mengatakan bahwa sebenarnya “ekspor kita
tak menggembirakan”. (sumber :  http://blog.ngaturduit.com/penguatanpelemahan-mata-uang/). Hati-hati dengan
istilah ekonomi yang ‘ketinggian’.
Hampir 70% komponen barang modal
Indonesia saat ini adalah barang impor. Bahkan barang modal yang jadi bahan
utama UMKM. Beli tunai ataupun kredit, barang modal impor itu pasti sekarang
makin tak terjangkau.
Karena pengusaha kecil-menengah harus
bayar lebih mahal, akibatnya menambah biaya. Jika menambah biaya maka harga
jual tak lagi bisa murah. Dijual di luar negeri pun, barang kita akhirnya tak
punya daya saing. Jauh lebih menggiurkan asing membeli produk elektronik Cina,
produk rumah tangga produksi Vietnam dan produk fashion produksi Bangladesh
serta Turki.
Dalam kondisi Rupiah tertekan,
sebenarnya, mengharuskan pemerintah mengintervensi pasar uang. Ini jika
pemerintah menginginkan kepercayaan dari timbulnya stabilitas ekonomi dalam
negeri. Tapi sekali lagi, tampaknya itu tidak jadi pilihan. Karena bagi
pemerintah yang makin liberal, mengamankan kepentingan asing di Indonesia
(dengan cara membuka pintu lebih lebar untuk konglomerasi asing dan membiarkan
rupiah lemah) justru lebih utama.
Selain itu, intervensi pasar uang
mengharuskan pemerintah melalui Bank Indonesia menguras isi brankas cadangan
devisanya untuk membeli surat berharga. Jika itu yang terjadi, maka pemerintah
masih harus bertemu kengerian baru : cadangan devisa berkurang drastis
digunakan beli-beli-beli, padahal slogannya adalah kerja-kerja-kerja. Jika
cadang devisa kecil, rupiah jauh lebih mudah digoyang.
Kebutuhan Pertamina akan dollar
merupakan yang tertinggi di dalam negeri. Sekitar USD 60-80 juta per hari.
Harga minyak padahal sedang jatuh. Dan minyak Indonesia katanya didapat
sebagian besarnya dari impor. Sekali lagi, Indonesia harus membayar mahal untuk
beli minyak yang harganya sedang jatuh.
Di posisi ini, pemerintah juga tak
berdaya karena mekanisme harga BBM diserahkan ke pasar. Kapanpun harga BBM bisa
naik drastis. Atau turun pun (meski jarang sekali), harga sembako tak kan
ikutan turun, ini sudah berulang kali terjadi. So, rakyat harus ‘enjoy’ dan tak
ada pilihan?
Perhatikan unsur pembentuk ekonomi
makro Indonesia itu. Dari 16 Maret 2014 hingga 16 Maret 2015, Rupiah telah
mengalami pelemahan sebesar 17%. Intervensi pemerintah adalah dilema, dilakukan
atau tidak sama berbahaya. Kontrol negara akan harga-harga yang berdampak pada
rakyat terus dipangkas.
Sementara kita harus membuka diri
menyambut masyarakat ekonomi bebas dunia. Mari mengobral Indonesia. Asetnya
sedang murah. Perusahaan energi raksasa Indonesia sedang diskon 20% jika dibeli
dengan USD. 19 negara masuk Indonesia tanpa perlu visa, yang terbesar jumlahnya
adalah dari Tiongkok. Sementara UMKM yang baru tumbuh dikenakan pajak ini-itu
dan dipersulit regulasi, dimatikan sebelum sempat berkontribusi.
Jauh lebih penting daripada sekedar
memikirkan elit yang terus bersengketa, sekarang tugas negara adalah bagaimana
“Save Rakyat” dan “Save Indonesia” (Sumber : SuaraJakarta.co)
Penulis: @endykurniawan (Twitter, FB,
Path, Instagram) – Trainer, coach dan penulis bidang Bisnis, Investasi dan
Keuangan

Kirim komentar Anda disini

Komentar

Baca Juga

Lahan di Ghimbo Pomuan Koto Perambahan, Pagi ini Terbakar

KAMPA, DETAKKAMPAR.CO.ID – Lahan seluas 20 x 30 meter dikawasan GhImbo Pomuan (hutan Adat) Desa ...