Selasa , 2 Juni 2020

Tradisi Mudik Lebaran Menjadi Polemik di Masa Pandemi Covid-19

Oleh Resdati, S.Sos.M.Si
Dosen Unversitas Riau

Tradisi Mudik lebaran idul fitri (visiting hometown on idul fitri) dilakukan oleh umat islam untuk menyambut hari raya idul fitri tanggal 01 Syawal tahun Hijriyah. Mudik merupakan fenomena unik yang seringkali terjadi tiap tahunnya di Indonesia.

Melonjaknya jumlah masyarakat yang pulang kampung dari kota-kota besar pada umumnya terjadi pada saat libur lebaran idul fitri karena bertepatan dengan libur sekolah dan tempat-tempat kerjapun memberikan libur panjang sehingga dimanfaatkan untuk pulang ke kampung halaman.

Fenomena mudik menjadi trent semenjak tahun 1970-an akibat dari berkembangnya kota-kota di Indonesia sehingga menjadi ajang masyarakat desa untuk melakukan urbanisasi mencari pekerjaan, mengadu nasip dan keberuntungan rezeki di kota.

Meskipun mudik mengeluarkan biaya, waktu, tenaga dan pikiran, sebagian masyarakat Indonesia tetap melakukannya. Fenomena yang dapat dilihat dari mulai memesan tiket kendaraan umum, mencari travel, membawa oleh-oleh untuk keluarga, berjam-jam kemacetan di jalan dan bahkan membawa anak-anak yang masih kecil di perjalanan.

Motif melakukan mudik berbagai hal misalnya kerinduan yang tidak terbendung untuk berjumpa dengan keluarga dan untuk menunjukkan eksistensi keberhasilannya selama di kota sehingga dapat membawa cukup uang yang dapat dibelanjakan dan didistribusikan dikalangan keluarga dekat di daerah asal sehingga diharapkan keberhasilannya dapat dirasakan oleh keluarga.

Biasanya selama mudik dapat digunakan untuk momentum gema takbiratul ihram di masjid-masjid atau mushollah, sholat idul fitri bersama keluarga besar, saling bersilaturahmi antar sesama keluarga, sahabat, tetangga, ziarah kubur dan sekaligus untuk menjadi momentum memanfaatkan libur lebaran mengunjungi objek wisata bersama keluarga.

Namun suasana menjelang mudik lebaran tahun ini sangat berbeda dengan tradisi mudik tahun-tahun sebelumnya, Mudik menjadi polemik dimasa wabah COVID-19, istilahnya saja memunculkan polemik antara mudik dan balik kampung apalagi dampak yang ditimbulkannya. Hal ini sesuai dengan edaran Peraturan Menteri Perhubungan (PERMENHUB) Nomor 25 tahun 2020 yang diterbitkan Tanggal 23 April 2020 tentang pengendalian sementara transportasi angkutan, Pengecualian bagi angkutan barang/domestic, serta turunan aturannya Surat Edaran (SE) No 4 Tahun 2020 yang dikeluarkan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Transportasi diperbolehkan mengangkut penumpang dengan syara UI hut penumpang memiliki surat tugas, orang yang bekerja di bidang lembaga pemerintah atau swasta yang bertugas menyelenggarakan pelayanan pertahanan, keamanan, kesehatan, ketertiban umum, kebutuhan dasar, fungsi ekonomi penting dengan menunjukkan surat tugas, Masyarakat yang memerlukan pelayan kesehatan darurat atau perjalanan yang keluarga intinya sakit keras atau meninggal dunia ,Pemulangan PMI, WNI, dan pelajar dari luar negeri yang ingin mudik ke daerah asal dengan menunjukkan KTP. Masyarakat biasa maupun mereka yang bekerja di instansi tertentu harus dilengkapi dengan menunjukan hasil rapid test yang menjelaskan bahwa mereka negatif COVID-19.

Ditambah surat edaran larangan dan sanksi mudik juga berlaku bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) sesuai dengan Surat Edaran (SE) Nomor 11/SE/IV/2020 tentang pedoman penjatuhan hukuman disiplin bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) menindak lanjuti keputusan Presiden No. 11 Tahun 2020 dan diterbitkannya Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Refomasi Birokrasi (Menpan-RB) Nomor 46 tahun 2020.

Jumlah terpapar wabah COVID-19 di Indonesia berjumlah 16.496 positif dan 1.076 meninggal dunia sedangkan yang sembuh berjumlah 3.803 kasus (covid19.go.id). Dalam rangka pencegahan penyebaran wabah COVID-19 pengawasan larangan mudik khususnya diperketat pada daerah-daerah yang berzona merah dan daerah-daerah yang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) terutama kendaraan transportasi yang mengangkut penumpang dan plat nomor kendaaraan yang berasal dari luar daerah.

Di Provinsi Riau setelah Kota Pekanbaru 5 daerah yang hari ini mulai menerapkan PSBB adalah Kabupaten Kampar, Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Siak, Kabupaten Bengkalis, dan Kota Dumai. Aturan mudik telah dibuat tetapi akankah masyarakat mau menerapkannya, mengingat banyaknya jumlah kasus wabah COVID-19 yang bisa mengintai selama dalam perjalanan mudik maupun mengintai keluarga di kampung halaman yang dapat membuat situasi seperti ini lebih lama lagi.

Kita berharap wabah COVID-19 ini segera berakhir sehingga dapat melaksanakan aktivitas seperti sedia kala.

Kirim komentar Anda disini

Komentar

Baca Juga

Jangan Remeh ! CORONA Mengancam Dunia

Oleh: AFDHAL Sejak muculnya wabah Corona akhir Desember 2019 pada awalnya dunia seperti tak menganggap ...