Minggu , Desember 5 2021

Warga Tuding Operator Pintu Air Waduk PLTA Koto Panjang Teledor

“”

Detak kampar.com KUOK – Para petani i’kan kerambah di tiga desa yakni Desa Merangin, Desa Pulau Terap, Desa Kuok, Kecamatan Kuok sepakat menuding operator pintu air waduk plta koto panjang sebagai biang dari naiknya debit air sungai hingga menyebabkan puluhan desa di sepanjang sungai  Kampar terendam hdan juga menghanyutkan serta merusak kerambah ikan para petani.

Para petani ikan seperti Doni, Ihsan beserta puluhan perwakilan petani ikan kerambah di tiga desa sepakat mendatangi operator pintu air pembangkit listrik PlTa koto panjang untuk melancarkan aksi protes. Sabtu (16/1), sekaligus mempertanyakan terkait kejadian yang telah membuat mereka teruhutang dalam akibat kerambah ikan mereka rusak.

Setelah berkumpul di Desa Lereng, akhirnya para petani ikan kerambah bergerak menuju PLTA Koto Panjang. Sesampai di depan pos penjagaan pintu masuk Waduk PLTA, massa dihadang oleh petugas jaga pintu gerbang PLTA. Beberapa orang satpam bersama personil TNI yang bertugas serempak datang menghampiri. Tuntutan massa hanya diperbolehkan masuk untuk bertemu dengan pihak berwenang di waduk PLTA.

Setelah berdialog, perwakilan massa dizinkan masuk bertemu pihak berwenang di waduk PLTA  Koto Panjang. Tiga orang perwakilan warga pun masuk. Di dalam areal waduk yang steril itu telah menuggu perwakilan warga.

Perwakilan warga diterima oleh Sahminan Siregar, manajer operasional dan pemeliharaan waduk PLTA bersama beberapa orang stafnya. Warga yang sudah kesal langsung saja memberondong sahminan dengan pertanyaan,”mengapa air dilepas dengan serta merta ? Apa ndak bapak-bapak pikirkan kami yang di hilir waduk ?,” cecar Ihsan bernada kesal.

Menurut Ihsan, curah hujan tinggi setiap tahunnya pasti terjadi, namun mengapa tahun-tahun sebelumnya tidak terjadi hal seperti sekarang ini ?. Ia menuding operator pintu air (Spilway) waduk PLTA sengaja atau teledor hingga membuat petani ikan kerambah merugi bukan-kepalang.

“Mereka kan bisa membuka pintu air bertahap. Sudah lebih dua puluh tahun PLTA ini ada, baru kali ini penjaga pintu air ceroboh. Kan bisa dibuka pintunya berangsur-angsur,” ujarnya lagi.

Namun tudingan warga dibantah oleh Sahminan Siregar. Ia menegaskan tidak ada kesengajaan operator pintu air untuk melepaskan air secara tiba-tiba hingga mengakibatkan kerambah warga rusak diterjang arus air yang kencang. Ini terjadi murni karena faktor curah hujan yang sangat tinggi di hulu waduk. Menurutnya intensitas hujan sangat tinggi terjadi di Provinsi Sumtra Barat.

“Pada Jumat sore itu terjadi air bah di Pangkalan, Kabupaten Lima Pulah Kota, Sumatra barat. Tentu saja dalam waktu sekejap inflow dan debit air naik sangat cepat,” kilahnya.

Tambahnya, selama beberapa hari ini dia dan bawahannya bekerja memantau volume air waduk selama 24 jam penuh.

Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi dampak yang lebih buruk lagi. Namun katanya, debit air tetap tak terbendung hingga menyebabkan banyak kerambah warga yang rusak.

“Sekali lagi kami sangat prihatin dengan apa yang terjadi. Namun itu semua di luar tenggat kami sebagai operator waduk pintu air.

Tentunya ini adalah musibah bagi kita semua. Tak ada yang menginginkan musibah terjadi,” jawabnya.

Sahminan mengakui, peristiwa kali ini memang terburuk sejak PLTA ini beroperasi 21 tahun lalu. Namun sekali lagi ia menegaskan ini adalah musibah yang kita semua harus kuat dalam menghadapinya. Ia juga mengatakan kondisi ini juga disebabkan oleh daerah resapan air di hulu waduk sudah rusak baik akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan maupun yang disebabkan oleh pembalakan liar.

“Daerah resapan air rusak, tentunya itu bukan wewenang operator waduk. Itu wewenang pemerintah untuk dapat menjaga daearah resapan air agar tidak semakin rusak dan memperburuk situasi tahun-tahun kedepannya,” ungkapnya.

Perwakilan warga juga berharap pihak pengelola waduk PLTA Koto Panjang mahu mengganti rugi kerambah petani ikan yang telah hanyut diterjang arus sungai.

“Kami meminta pihak PLTA Koto Panjang mau mengganti rugi ikan-ikan kami,” ucap Doni.

Menanggapi hal ini, Sahminan belum bisa memberikan jawaban. Karena menurutnya ini bukan wewenang dirinya.

Masih ada atasannya yang berwenang untuk memberikan keputusan terakait hal ini.

“Terimakasih, tuntutan bapak-bapak akan saya sampaikan ke atasannya saya di Pekanbaru. Karena saya tidak berwenang menjawab tuntutan masyarakat ini,” kilahnya.(dir/edi)

Kirim komentar Anda disini

Komentar