Minggu , Desember 5 2021

Awas..! Batu Akik Dianggap Berpotensi Munculkan Jentik Nyamuk DBD

Detak kampar.com JAKARTA
— Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes)
Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama tengah mengadakan riset resistensi
insektisida. Penelitian ini mengarah pada jentik-jentik nyamuk Aedes Aegypti
penular demam berdarah.

Untuk keperluan tersebut Tjandra melakukan kunjungan ke rumah-rumah di Padang
untuk sampel pertama. Berdasarkan temuan awal ke rumah-rumah warga, ditemukan
rumah yang memiliki banyak bongkahan batu akik berpotensi menjadi sarang nyamuk
DBD.

“Di sebagian rumah yang kami temui, ternyata ada kaleng, panci atau ember
kecil yang dipakai merendam bongkahan batu akik. Di sebagian besar rendaman
batu akik ini maka peneliti kami menemukan jentik nyamuk Aedes Aegypti yang
dapat menularkan virus Dengue dan menyebabkan penyakit DBD,” katanya dalam
siaran pers , Jumat (3/7).

Menurutnya, saat ini peminat batu akik semakin meluas di Indonesia. Baik
membeli batu yang sudah diasah jadi cincin ataupun masih dalam bentuk bongkahan
batu yang. Tentu ini hal yang wajar, hanya saja, rendaman bongkahan bantu bisa
berpotensi menjadi masalah bagi kesehatan.

Ia menghimbau agar warga tidak merendam bongkahan batu akik dalam air selama
berhari-hari tanpa diganti airnya. Ia menemukan jentik nyamuk hidup subur di
rendaman batu akik.

Apalagi proses perendaman ini memanh langkah penting agar terlihat urat-urat
yang menjadi daya tarik pembelinya. Oleh karena itu, tidak dilarang perendaman
batu akik di air. Namun air rendamannya harus diganti setiap hari.

“Jangan sampai “demam” batu akik‎ kemudian malah menjadi penyebab
terjadinya demam “beneran” akibat DBD,” ujarnya.

Selain rendaman bongkahan batu akik, Kemenkes juga menemukan rumah yang
terdeteksi nyamuk DBD karena beberapa bagian rumahnya banyak rendaman air atau
bahkan hanya tetesan air baik di gelas ataupun ember. Berdasarkan temuan awal
sekitar 30 – 50 persen rumah yang dikunjungi ternyata memang jentik nyamuknya.
Ini tentu saja potensi penyebaran DBD ‎menjadi besar.

Balitbangkes Kemenkes akan terus mengumpulkan temuan untuk mendukung riset yang
akan dilakukan hingga akhir tahun. Balitbangkes akan mengumpulkan minimal
244.800 ‎jentik nyamuk di seluruh Indonesia.

Nantinya
hasil ini akan diperiksa di Laboratorium Balitbangkes dan akan dikembangbiakkan
di beberapa kota di Indonesia untuk menjadi nyamuk dewasa.
Nyamuk-nyamuk
ini nantinya akan diuji ketahanannya pasa lima jenis insektida yang biasa
digunakan di Indonesia. Lewat hasil itu akan didapatkan insektisida mana yang
esisten atau tidak digunakan lagi untuk pengendalian nyamuk di negara kita.
Hasil akhir akan didapat pada akhir 2015 ini.***

Kirim komentar Anda disini

Komentar