Minggu , Desember 5 2021

Inilah Kisah Bawang Merah Tumbuh Subur Di Kampar

Detak kampar.com Bawang
merah (allium cepa varascolonium) merupakan tanaman semusim yang berdiri tegak
dan perdu. Berfungsi sebagai sayuran dan rempah penting. 

Sedikit kisah bawang merah di Kabupaten Kampar. Awalnya tanaman tersebut
dianggap mustahil bisa tumbuh subur di kawasan lahan berbagai daerah Kabupaten
Kampar yang dominan merupakan rawa gambut.

Namun
Bupati Jefry Noer menepis sangkaan tersebut dengan berinisiatif mendatangakan
ahli pertanian sehingga kini bawang merah dapat tumbuh subur di atas lahan rawa
gambut yang telah dinetralkan dan disuburkan melalui metode sederhana.

Saat ini, Kampar bahkan bertekad menjadi sentra bawang merah untuk Riau bahkan
Sumatera yang selama ini ketergantungan bawang merah impor. Sejumlah daerah
kecamatan di Kampar saat ini juga terus mengembangkan kawasan pertanian bawang
merah guna mendukung terwujudnya sentra pemenuhan kebutuhan Sumatera.

Untuk mengarah pada tujuan itu, Pemda Kampar kemudian menyinergikan tanaman
bawang ke dalam Program RTMPE.

Analisis Usaha
Spesifikasi :
•    Luas lahan 200 meter persegi
•    Populasi 224 tanaman
•    Periode usaha 2 bulan
•    Asumsi produksi 0,11 kilogram (kg)/tanaman
•    Potensi kerusakan tanaman 5 persen

Pengeluaran :
Modal bahan (bibit, pupuk, mulsa dll)
•    Benih bawang (1 bks)      
     : Rp840.000
•    Pupuk kandang (90 kg)      
 : Rp135.000
•    Pupuk organis (90 kg)      
 : Rp135.000
•    NPK (10 kg)      
     : Rp105.600
•    ZA (8 kg)          
     : Rp68.000
•    KCI (1,2 kg)      
     : Rp9.000
•    TSP (2 kg)      
         : Rp15.000
•    Dolomit (20 kg)      
     : Rp40.000
•    Furadan (0.3 kg)      
     : Rp10.500
•    Pegasus (0,04 liter)      
     : Rp36.000
•    Decis (0,02 liter)      
     : Rp2.640
•    Urea (3,6 kg)      
             : Rp25.200
•    Bion M (0.1 kg)      
     : Rp32.500
•    Mulsa Plastik (0,24 roll)      
 : Rp180.000
•    Bio Nutrisi (0,2 liter)      
     : Rp40.000
•    Herbisida Pratumbuh (0,02 kg)  
     : Rp7.000
•    Herbisida Round up (0,1 liter)  
     : Rp9.000
Total pengeluaran untuk bibit, pupuk dan obat    : Rp1.690.440

Upah Pekerja
Jika tiap rumah tangga ingin mengupahkan pengelolaan lahan, maka harus
mengeluarkan biaya sekitar Rp800.000. Kemudian pembuatan pedengan, pengapuran
tanah/lahan, pemberian pupuk kandang, pemasangan mulsa, penanaman dan pemupukan
serta penyemprotan insektisida serta atenaga panen (1 HOK) yakni sekitar
Rp416.000.

Total modal : 1.690.440 + 800.000 + 416.000 = Rp2.906.440
Catatan : jika seluruh kegiatan dilakukan sendiri, maka pengeluaran hanya
sekitar Rp1.690.440.

Pendapatan
Total produksi        : 120 kg x 2 = 240 kg
Tingkat kerusakan        : 5 %
Harga jual        : Rp20.000/kg
Total pendapatan        : 240 kg x 95 % x
Rp20.000/kg = Rp4.560.000
Keuntungan bersih        : 4.560.000 – 2.906.440
= Rp1.653.560

Namun jika pekerjaan dilakukan sendiri, total keuntungan bersih yakni :
4.560.000 – 1.690.440 = Rp2.919.760***rls

Kirim komentar Anda disini

Komentar