Rabu , Oktober 20 2021

Jepit rambut warna cokelat dengan guratan yang membentuk tulisan “Tina”

Detak kampar.com, Semarang – Jepit rambut warna cokelat dengan guratan
yang membentuk tulisan “Tina” menjadi saksi bisu kegundahan Satinah
ketika terlibat kasus pembunuhan di Arab Saudi. Benda itu diusahakan
Satinah agar bisa “terbang” melintasi lautan hingga sampai di rumahnya
di Dusun Mrunten, Desa Kalisidi, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten
Semarang sebagai pesan kepada anak dan kerabatnya.

Selain jepit
rambut, ada juga dua lembar kertas memo berukuran kecil yang sudah kusam
bertuliskan pesan meminta doa kepada keluarga agar bisa cepat berkumpul
lagi dengan keluarga. Guratan di jepit rambut dan pesan tersebut
ditulis Satinah di balik jeruji penjara Al Ghazi, Saudi Arabia tahun
2008 silam.

“Tulisan yang ada di jepit rambut itu ditulis pakai
jarum. Ada tulisan nomor handphone saya juga di situ,” kata kakak ipar
Satinah, Sulastri (39) saat ditemui di kediamannya Dusun Mrunten, Desa
Kalisidi, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Kamis
(27/3/2014).

Jepit itu dititipkan Satinah kepada rekannya sesama
TKW yang juga dibui di penjara Al Ghazi. Kertas memo itu dilipat kecil
kemudian dimasukkan ke sendal jepit yang dipakai TKW itu ketika bebas
dari penjara dan bisa melewati pengawasan sipir penjara. Dengan berbekal
nomor telepon yang diukir oleh Satinah, TKW itu akhirnya bisa
mengabarkan keadaan Satinah yang dipenjara Arab Saudi kepada
keluarganya.

“Tahun 2008 mengirim surat, memberi tahu kalau ada masalah di sana (Arab Saudi),” tandas Sulastri.

Jepit
rambut itu merupakan barang kesayangan dan sudah dikenakan Satinah
sejak di Indonesia, oleh karena itu Satinah menyertakan benda tersebut
di surat tersebut agar percaya pesan itu ditulis olehnya.

Salah
satu kutipan dalam surat tersebut adalah, “Aku njaluk dongane wae lek
cepet mulih sing kuoso maringi ampunan lan majikan ampunan welas asih
karo aku lek cepet bebas dibalekke. (Aku minta doanya agar cepat pulang,
Yang Kuasa memberi ampunan dan majikan berbelas kasihan mengampuni dan
agar cepat bebas dipulangkan),”

Pihak keluarga kini menunggu
apakah usaha pemerintah dan bantuan dari berbagai pihak yang sudah
diberikan bisa membebaskan Satinah dari hukuman pancung sehingga bisa
kembali ke rumah dan putri Satinah, Nur Afriana (20) bisa melihat ibunya
kembali memakai jepit rambut itu.***(joey)

Kirim komentar Anda disini

Komentar